Rabu, 03 Agustus 2011

"Pahlawan Prancis Yang Disamarkan KeIslamannya"

Kaisar Napoleon Bonaparte adalah anak kedua dari tujuh bersaudara. Ia lahir di Casa Bounaparte, di kota Ajaccio, Korsika, pada tanggal 15 Agustus 1769, satu tahun setelah kepulauan tersebut diserahterimakan Republik Genoa kepada Perancis.[1] Ia lahir dengan nama Napoleone di Bounaparte, namun ia mengubah namanya menjadi Napoléon Bonaparte yang lebih berbau Perancis.[note 1]Keluarga Bounaparte adalah keluarga bangsawan yang berasal dari Italia, yang pindah ke Korsika di abad ke-16/[3] Ayahnya, Nobile Carlo Bounaparte, seorang pengacara, pernah menjadi perwakilan korsika saat Louis XVI berkuasa di tahun 1777. Ibunya bernama Maria Letizia Ramolino. Ia memiliki seorang kakak, Joseph; dan 5 adik, yaitu Lucien, Elisa, Louis, Pauline, Caroline, dan Jérôme. Napoleon di baptis sebagai katolik beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang kedua, tepatnya tanggal 21 Juli 1771 di Katerdal Ajaccio.

PENUTURAN BONAPARTE
Penuturan Napoloen Bonaparte sendiri yang pernah dimuat di majalah Genuine Islam, edisi Oktober 1936 terbitan Singapura.
"I read the Bible; Moses was an able man, the Jews are villains, cowardly and cruel. Is there anything more horrible than the story of Lot and his daughters?""The science which proves to us that the earth is not the centre of the celestial movements has struck a great blow at religion. Joshua stops the sun! One shall see the stars falling into the sea... I say that of all the suns and planets,...

""Saya membaca Bible; Musa adalah orang yang cakap, sedang orang Yahudi adalah bangsat, pengecut dan jahat. Adakah sesuatu yang lebih dahsyat daripada kisah Luth beserta kedua puterinya?" (Lihat Kejadian 19:30-38)"Sains telah menunjukkan bukti kepada kita, bahwa bumi bukanlah pusat tata surya, dan ini merupakan pukulan hebat terhadap agama Kristen. Yosua menghentikan matahari (Yosua 10: 12-13). Orang akan melihat bintang-bintang berjatuhan kedalam laut.... saya katakan, semua matahari dan planet-planet ...."

Selanjutnya Napoleon Bonaparte berkata :"Religions are always based on miracles, on such things than nobody listens to like Trinity. Yesus called himself the son of God and he was a descendant of David. I prefer the religion of Muhammad. It has less ridiculous things than ours; the turks also call us idolaters.""

''Agama-agama itu selalu didasarkan pada hal-hal yang ajaib, seperti halnya Trinitas yang sulit dipahami. Yesus memanggil dirinya sebagai anak Tuhan, padahal ia keturunan Daud. Saya lebih meyakini agama yang dibawa oleh Muhammad. Islam terhindar jauh dari kelucuan-kelucuan ritual seperti yang terdapat di dalam agama kita (Kristen); Bangsa Turki juga menyebut kita sebagai orang-orang penyembah berhala dan dewa."

Selanjutnya :"Surely, I have told you on different occations and I have intimated to you by various discourses that I am a Unitarian Musselman and I glorify the prophet Muhammad and that I love the Musselmans."

"Dengan penuh kepastian saya telah mengatakan kepada anda semua pada kesempatan yang berbeda, dan saya harus memperjelas lagi kepada anda di setiap ceramah, bahwa saya adalah seorang Muslim, dan saya memuliakan nabi Muhammad serta mencintai orang-orang Islam."

Akhirnya ia berkata :"In the name of God the Merciful, the Compassionate. There is no god but God, He has no son and He reigns without a partner."

"Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Tiada Tuhan selain Allah. Ia tidak beranak dan Ia mengatur segala makhlukNya tanpa pendamping."


~Napoleon Bonaparte mengagumi Al-Quran~
Setelah membandingkan dengan kitab sucinya terdahulu, Alkitab. Akhirnya ia menemukan keunggulan-keunggulan Al-Quran, juga semua cerita yang melatar belakanginya.Dalam buku yang berjudul ‘Bonaparte et I'Islarn oleh Cherlifs, Paris, halaman 105’, Napoleon Bonaparte berkata sebagai berikut:
"I hope the time is not far off when I shall be able to unite all the wise and educated men of all the countries and establish a uniform regime based on the prinsiples of the Qur'an wich alone can lead men to happiness.”“

"Saya meramalkan bahwa tidak lama lagi akan dapat dipersatukan semua manusia yang berakal dan berpendidikan tinggi untuk memajukan satu kesatuan kekuasaan yang berdasarkan prinsip--prinsip ajaran Islam, karena hanyalah Qur'an itu satu-satunya kebenaran yang mampu memimpin manusia kepada kebahagiaan."

Suatu Teladan yang patut untuk dijadikan contoh?.., Dan Semoga bisa diambil Hikmahnya, Amin.



Senin, 20 Juni 2011

TERRORISM is the common enemy


Banyak orang menyangka baahwa akar terorisme adalah agama. Jelas pandangan itu keliru. Dalam setiap agama ada saja dan bisa saja, ada oraang-orang yang terlibat dalam tindakan tersebut dengan mengatasnamakan agama. Di amerika merupakan tempat yang subur bagi maraknya tindakan terorisme. Ini disebabkan oleh prinsip yang dianutnya dalam kehidupan demokrasi. Kata-kata seseorang dalam konteks kebebasan berbicara tidak sampai ke pengadilan, sekali pun di dalamnya mengandung banyak hasutan dan provokasi. Memang, Amerika tidak menghukum kata-kata, amerika hanya menghukum perbuatan. Tindakan terorisme yang dilakukan secara random dan susah untuk ditelusuri, baik sebelum maupun sesudah dilakukan, menyebabkan penyelidikan dan penyidikan terhadap pelaku-pelaku teror, tidak mengukuti KUHAP. Dan hal ini dibutuhkan cara-cara penyidikan yang di luar kebiasaan (extraordinary investigation and examination). Laporan para intelijen dan kerja sama internasional sangat dibutuhkan bahkan sangat mutlak.
Seperti contoh, kasus bom Bali bisa saja di kendalikan tidak di Indonesia. Dan kebencian terhadap Amerika sudah lama dijadikan alat penyulut untuk melakukan tindakan teror di mana-mana. Kita mengenal istilah brain washing (pencucian otak). pencucian otak manusia melalui dotrin-dotrin sistematis yang bisa saja di rekayasa untuk membuat kelompok-kelompok terorisme.
Dalam konteks ini sangat dimengerti, manakala si pelaku pemboman berhasil menewaskan Amerika. Tindakan pertama yang dia lakukan adalah berdoa, karena telah berhasil melakukan misi-misi terornya. Salah satu alasan Amerika menyerang Irak adalah untuk memerangi terorisme setelah peristiwa 11 september 2001 yang menghancurkan gedung WTC di New York, tetapi hal ini di tepis oleh beberapa orang bahwa alasan Ameriaka mendatangi Irak adalah untuk mengambil alih pusat-pusat tambang minyak yang ada di Irak. Bahkan apakah alasan itu benar atau tidak, yang pasti atas tindakan terorisme telah terjadi kejahatan baru, yaitu perang yang bisa saja menghancur-luluhkan manusia-manusia sipil yang tak berdosa,,,

Minggu, 19 Juni 2011

Art Slideshow

Art Slideshow: "TripAdvisor™ TripWow ★ Art Slideshow ★ to Makassar. Stunning free travel slideshows on TripAdvisor"

Sabtu, 18 Juni 2011

Share your Happiness


hidup akan terus berjalan bersama tuhan allah...

kenapa harus menangis selama masih bisa tersenyum?

kenapa harus airmata yang keluar saat sedih mulai menyapa?

Lihatlah keluar,

di sana masih banyak yang lebih susah darimu

lihat mereka,

pikirkanlah, sebelum kamu bersedih

selalu bersyukur dengan apa yang kita dapatkan

hidup untuk dijalani, bukan untuk diratapi

sejenak merasa sedih adalah lumrah, tapi jangan berkelanjutan

masih panjang jalan yang harus ditempuh

tidak cukup sampai di sini

ayo bangkitkan semangat, kejarlah impian

berlari seiring berjalannya waktu

pompa terus semangat, kuatkan hati

tetap istiqomah di jalan-Nya

Allah bersama kita, jadi kenapa harus takut dan bersedih hati??

mata ini bercerita pada hati

tentang hidup seorang janda miskin

yang selalu masuk keluar lorong

menelusuri gang-gang sempit

mengetuk pintu demi pintu

di setiap pagi hingga petang

jajakan sagu di atas dulang

melangkah tiada beralas kaki

di atas beribu kerikil yang menghampar

di sepanjang jalan hidupnya

kadang pulang membawa berkah

kadang juga menenteng hampa

tapi tak pernah ada kecewa

memancar dari wajahnya

mata ini juga bercerita pada hati

tentang nasib anak-anaknya

yang menanti tak pasti datangnya sesuap nasi

bersama petang yang menuntun pulang ibunya

mata ini kemudiann bertanya pada hati

Adakah yang bisa berbagi???

Jumat, 17 Juni 2011

"Doa Munajat"


Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang bersalah dan berdosa ini telah mengulurkan tangannya kepada-MU dengan prasangka baik kepada-MU.

Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang buruk ini telah duduk dihadapan-MU, datang menghadap kepada-MU dengan segala perbuatan buruknya, untuk memohon maaf kepada-MU atas segala kesalahannya.

Wahai Tuhanku, orang yang zalim ini telah mengangkat kedua tangannya di hadapan-MU. Dia mengharapkan segala apa yang Kau miliki, maka janganlah Engkau gagalkan dia untuk memperoleh rahmat-MU.

Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang selalu kembali berbuat maksiat telah berlutut di hadapan-MU. Dia takut pada hari di mana seluruh manusia berlutut di hadapan-Mu.

Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang bersalah telah datang kepada-Mu dengan ketakutan. Dia mengangkat matanya, karena takut dan mengharapkan-Mu. Air matanya bercucuran sambil memohon ampunan-Mu dan menyesali perbuatannya.

Demi kemuliaan dan keagungan-Mu. Aku tidak menginginkan, atas perbuatan maksiatku, untuk mendurhakai-Mu. Tidaklah aku bermaksiat pada-Mu kecuali itu memang ketidak taatanku kepada-Mu. Aku telah mengingkari–Mu namun aku tidak menentang hukuman-Mu. Juga aku tidak menganggap enteng pengawasan-Mu, tetapi nafsuku telah menggodaku; ia telah membuatku sengsara hingga diriku terjerat. Mulai sekarang, siapa gerangan yang dapat menyelamatkanku dari siksa-Mu? Dan dengan tali mana aku harus berpegangan, jika Engkau telah memutus tali-Mu dariku?

Alangkah buruknya aku kelak, saat berada di hadapan-Mu. Ketika dikatakan kepada orang-orang yang tak berdosa, Perkenankan mereka untuk masuk surga’, dan dikatakan kepada orang-orang yang penuh dosa, “Berhentilah!” Apakah aku akan bersama orang-orang yang tak berdosa itu, sehingga aku akan lebih diperkenankan untuk masuk surga?’ atau bersama orang-orang yang banyak dosanya, sehingga aku akan dihentikan?’

Setiap kali usiaku bertambah, maka semakin banyak dosa-dosaku. Semakin panjang usiaku, semakin banyak pula maksiatku. Kapankah aku bertaubat dan kembali? Sungguh aku malu pada Tuhanku’

’Ya, Allah, dengan hak Muhammad beserta keluarganya, ampuni dan kasihilah aku. Wahai Yang paling pengasih dari segala yang mengasihi. Wahai Yang Paling Mengampuni dari segala yang mengampuni’

SIAPAKAH DIRIKU???

Saya hanya manusia biasa yang selalu berserah diri kepadaMu, aku memang banyak dosa padaMu, aku banyak melupakan diriMu, aku memang manusia yang kotor dan tak layak berada di sisiMu,,,

Ampunilah hambaMu ini, karena aku tak tahu, siapakah sebenarnya diriku,,,

Apakah aku ini manusia???

Apakah aku ciptaanMu???

Apa aku merupakan orang yang Engkau cintai???

Atau aku hanyalah setitik hiasan dalam sebuah penciptaanMu???

Tapi satu yang pasti, aku selalu merindukan diriMu,

Tapi aku merasa sulit berjalan menuju kesempurnaanMu,

Berilah hamba ini petunjukMu, agar diriku ini mampu merasakan jalan-jalan cahayaMu.

Dan janganlah Engkau membiarkan diriKu dalam sebuah kesengsaraan, meskipun aku tahu bahwa ini hanyalah sebuah cobaanMu, yang senantiasa menjadikan diriku untuk yang lebih baik...

Aku Cuma mau mengatakan padaMu

Ketika jalan kegelapan telah datang,

Maka hanya cahaya kesucianlah yang mampu meneranginya,

Janganlah Engkau diam dan membiarkan aku masuk ke jalan itu,

Karena ku tahu jalan itu bukan jalan yang Engkau ridhoi,

Tapi kuharap senantiasalah berada didekatku,

Karena kutahu hanya Engkaulah yang mampu menerangi jalan kegelapan itu..

Catatan Air Mata


Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Salam cinta dan kasih sayang!!!
Hari ini aku sedih dan bahagia. Aku sedih karena tak lulus dalam seleksi mendapatkan pekerjaan tapi aku bahagia karena mungkin ALLAH SWT punya jalan tersendiri buat saya.
Aku yakin ALLAH SWT tidak akan memberikan cobaan kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuan-Nya. Aku percaya bahwa semua ini ALLAH SWT lakukan hanya untuk menguji keimanan dan kesabaranku.
Aku memang sadar, mungkin hamba tak pantas berada di pekerjaan ini, tapi saya akan terus berjuang untuk tetap berusaha semaksimal mungkin agar hamba bisa sukses dalam dunia maupun akhirat.
Di saat aku menulis semua kegundahaanku, aku teteskan air mata tetapi tetesan air mata ini jatuh bukan karena saya tidak lulus dalam seleksi ini, tetapi hamba meneteskan air mata inikarena hamba merasa bersalah dan malu tak mampu membahagiakan orang tua, saudara (kakak), teman-temanku dan seluruh orang-orang yang saya cintai dan mencintai saya.
Kuharap air mata ini bisa membangkitkan semangatku untuk mencapai harapan dan tujuanku yang selama ini saya pendam dalam akal dan hatiku. Dan mulai hari ini, Hamba berjanji akan terus melakukan sesuatu yang terbaik buat saya pribadi dan orang-orang yang saya cintai.
Di depan danau ini, langit, pohon-pohon yang rindang, burung-burung dan ikan-ikan dalam danau akan menjadi saksi dan suatu saat aku akan kembali di tempat ini dan membuktikan semua janji di depan para saksi-saksiku.
Akhir tulisan ini, saya hanya akan terus berjuang dan terus berjuang tanpa kenal putus asa hingga hamba sampai pada titik kesempurnaan dan kembali pada Sang Maha Sempurnah ALLAH SWT.
Semoga limpahan CINTA, KASIH SAYANG, dan RAHMAT-Nya terus berada dalam langkaku.
Salam cinta dan air mata,,,,,
Yakin Usaha Sampai...

AMIN
Wassalam

Senin, 31 Mei 2010

19 Gugur dalam Serangan Israel ke Armada Kemanusiaan Gaza



Nazaret – Infopalestina: Televisi Israel mengutip dari sumber-sumber militer tidak resmi yang menyebutkan adanya sejumlah korban gugur dan terluka dalam aksi serangan yang dilakukan Israel terhadap armada kebebasan yang berlayar menuju Jalur Gaza.

Televisi Israel mengatakan bahwa 16 dari mereka yang berada di atas armaka kebebasan tewas. Sementara itu lebih dari 60 lainnya terluka. Sumber militer Israel ini mengatakan bahwa keputusan serangan diambil oleh Menteri Perang Israel Ehud Barak dalam pertemuan militer. Dalam pernyataan susulan, militer Israel mengumumkan jumlah korban dalam serangan ke armada kemanusiaan Gaza mencapai 19 orang.

Sebelumnya sumber media Turki menyebutkan dua orang telah gugur di awal penyerbua yang dilancarkan Israel dan 60 lainya terluka, di antaranya dalam kodisi kritis. Media Turki menuduh Israel telah melakukan pembantaian.

Disebutkan bahwa serangan ini dilancarkan Israel sejak Senin pagi terhadap kapal-kapal armada kebebasan dengan menggunakan senjata api. Hal ini yang mengakibatkan sejumlah orang gugur dan terluka di kalangan para aktivis kemanusiaan, terutama di antara mereka ada yang berusia lanjut.

Armada kemanusiaan ini membawa 750 aktivis solidaritas dari lebih 40 negara, meskipun banyak permintaan dari berbagai pihak untuk bisa berpartisipasi dalam misi kemanusiaan ini. Turut serta dalam armada ini 44 pejabat pemerintah, anggota parlemen dan aktivis politik Eropa dan Arab, termasuk sepuluh anggota parlemen Aljazair.

Armada ini membawa lebih dari 10 ribu ton bantuan medis, bahan bangunan dan kayu, 100 rumah siap huni untuk membantu puluhan ribu warga yang kehilangan rumah mereka dalam perang Israel di Gaza pada awal 2009, serta membawa 500 kendaraan listrik untuk mobilitas penyandang cacat, terutama sejak agresi Israel terakhir telah mengakibatkan 600 penyandang cacat di Gaza. (asw)

Minggu, 23 Mei 2010

RINTIHAN ALAM


Lelaki renta itu tertegun. Matanya membelalak kaget dan mulutnya ternganga. Takjub melihat pemandangan yang terhampar di depannya saat ini. Bukan takjub kagum. Jelas bukan itu jika melihat raut wajahnya saat ini. Jiwanya serasa terbang, ketakutanyang tak terlukiskan mengisi raga itu. Kakinya terasa lemas saat dia mulai menjajaki tanah hitam itu. Kabut asap masih membumbung tinggi berbaur dengan awan di angkasa. Apa ini? Bermimpikah dia? Dia mencubit punggung tangan kirinya. Sakit! Berarti… ini kenyataan? Tidak. Dia menggelengkan kepala kuat-kuat. Tidak! Ini tidak mungkin terjadi!

Langkah pelannya semakin dipercepat. Detik berikutnya dia sudah berlari, melayang masuk semakin jauh. Semakin dalam. Dia berhenti di tengah hamparan itu. Nafasnya tersengal, jantungnya berdebar kencang. Seolah-olah seseorang menabuh genderang dengan cepat dan kuat di sana. Seharusnya di sini begitu indah, pikirnya getir. Dilemparkan pandangannya ke sekeliling. Hitam dimana-mana. Kemana hijau yang menyejukkan dulu? Kemana aroma segar rerumputan saat itu? Tiba-tiba dia merasa mual, bau gosong memenuhi rongga hidungnya.

“Sapto…?” Ada suara memanggilnya, terdengar jauh tetapi juga sangat dekat. Merintih lemah di dalam benaknya.

Dia menoleh ke sekitar, mencari sumber suara itu. Kosong. Tak ada seorangpun di sana kecuali dia. Bahkan tak ada sosok makhluk hidup pun disini. Kemana kicau burung dan hentakan liar kijang, benaknya perih.

Tiba-tiba matanya tertuju ke satu titik, tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia ingat pohon –tepatnya sisa pohon– itu. Pohon Waru yang sering dipakainya tidur siang bersama teman-temannya dulu setelah mereka lelah menjelajahi hutan. Pohon Waru ini, tempat dia bertemu sahabat baiknya dan berjanji akan kembali lagi kesini sebelum dia merantau ke kota. Dia juga masih bisa mengingat kata-kata si Mbok dengan jelas, ‘Pohon Waru itu pohon kehidupan. Pohon yang menjadi jantung dari hutan di belakang desa mereka. Itu sebabnya pohon itu tidak boleh dirusak, apalagi ditebang.’ Tapi lihatlah kini…

Sapto tercekat. Cahaya hijau transparan berpendar lemah dari bongkahan pohon yang hangus itu. Sedikit ragu, Sapto mendekat. Mungkinkah? Semoga saja… Dia berdiri di depan bongkahan itu. Gemetaran. Tapi bukan karena takut. Jarak antara tempatnya berdiri dan cahaya itu hanya satu meter. Sapto bergeming. Menunggu. Sedikit terisak ketika melihat cahaya hijau itu tiba-tiba berputar di tempat. Masih ada dedaunan di dalam pusaran itu,tapi bukan berwarna hijau seperti dulu. Daun-daun itu kini kehitaman. Warna kematian, desah Sapto dalam hati.

Pusaran itu semakin lama semakin cepat, hingga akhirnya melambat lalu hilang. Bau hangus semakin kuat tercium. Seorang anak lelaki berdiri di sana, menggantikan cahaya yang dilihat Sapto tadi. Umurnya kira-kira tiga belas tahun. Tangannya terulur ke arah Sapto, lama sudah dia menanti sahabat lamanya itu.

“Rheinne?” bisik Sapto pelan. Maih belum percaya dengan apa yang dilihatnya. Dia senang tapi juga sedih. Entahlah, bimbang telah membuatnya susah berpikir.

Anak lelaki itu mengangguk pelan, mengiyakan. Tangannya masih di udara menanti tangan Sapto. Sapto melangkah maju, memasuki kabut tipisyang mengitari Rheinne. Bulir airmata menetes pelan, membasahi pipi Sapto. Ada rindu menyeruak di dadanya. Dia menggenggam tangan Rheinne. Terasa dingin. Ah, tentu saja. Tangan Rheinne memang dingin sejak dulu. Hanya saja dinginnya dulu tak pernah sedingin ini. Dulu dingin itu begitu menyejukkan. Begitu nyaman. Tidak seperti sekarang.

“Apa yang terjadi?” tanya Sapto. Dia terkejut mendengar suaranya sendiri. Ini suaranya ketika baru pecah dulu. Serak dan melengking di akhir kata-katanya.

Sapto memandang tangannya kemudian meraba wajah dan tubuhnya. Lalu tersenyum kepada Rheinne ketika mendapati dia bukan lagi seorang kakek berumur tujuh puluhan. Raganya kembali seperti ketika dia berumur empat belas tahun. Seperti waktu pertama kali dia bertemu Rheinne. Ini pasti perbuatannya, pikirnya sambil menatap sahabat lamanya itu.

“Hilang, To. Semua musnah. Terbakar dalam api…” Suara Rheinne terdengar jauh. Aneh, padahal Rheinne kini melayang di sampingnya.

“Aku tau…” jawabnya pelan.

Sapto masih bisa mengingatnya dengan jelas. Dulu di sini penuh dengan pepohonan. Hamparan rumput yang hijau seolah menjadi permadani untuk hutan ini. burung dan jangkrik bergantian bernyanyi menghibur mereka ketika bermain di sini. Ah, tapi itu dulu. Enam puluh tahun yang lalu. Sekarang semua lenyap, permadani hijau itu kini hitam. Gosong dan terbakar. Bangkai pohon berserakan dimana-mana. Api telah membumihanguskan semuanya. Merampas suara dan nafas kehidupan di dalam hutan ini. Membuatnya sunyi. Lebih sunyi daripada kuburan.

“Gimana bisa?” tanya Sapto menuntut penjelasan. Dia tau Rheinne pasti bisa memberinya jawaban. Itu semua karena Rheinne tidak pernah pergidari hutan ini, bahkan sampai saat ini pun dia masih di sini. Menjaga puing yang tersisa dari hutan hijau dulu.

Ditatapnya wajah Rheinne, tanpa sadar dia berdecak kagum. Lima puluh tahun telah berlalu semenjak mereka terakhir bertemu. Tapi Rheinne tetap sama. Wajah imutnya tak bertambah dewasa. Rambutnya pun tetap sama. Halus dan lembut dengan warna hijau daun. Poniyang menutupi sebelah matanya pun tetap tak bertambah panjang. Seakan-akan aturan waktu tidak berlaku baginya

Tapi, tunggu. Sapto memperhatikan sahabat lama lagi. Ya, ada yang berbeda darinya sekarang. Rheinne… Dia kini lebih sayu, cahaya yang berpendar di sekelilingnya terlihat redup. Sapto ingat Rheinne pernah bilang, ‘Jika cahaya seorang Peri Hutan terlihat redup maka itu tandanya waktunya mulai habis…’. Bukankah itu berarti sekarang Rheinne akan… Tidak! Sapto menggelengkan kepalanya kuat-kuat, entah sudah berapa puluh kali dia melakukannya hari ini.

“Manusia-manusia itu…” Rheinne menarik nafas dalam. “Mereka menebang dan membakar hutan, To. Mereka juga menembaki dan menangkap hewan-hewan…”

Ternyata benar dugaan Sapto. Hutannya kini telah hancur, dikorbankan demi perkembangan desanya. Surga dan paru-paru bagi dunia itu harus dilenyapkan demi kepentingan manusia. Betapa egoisnya manusia itu, pikir Sapto getir.

“Terus kenapa kamu nggak ngelawan mereka, Rhe? Kamu… Bukannya kamu punya kekuatan untuk itu?” Ada nada menuduh dan kecewa dalam suara Sapto ketika mengatakan itu. dia sama sekali tidak bermaksud menyalahkan Rheinne,tapi kata-kata itu terlontar begitu saja. “Maksudku, apa sih hebatnya senjata dan alat-alat itu kalau mau dibandingkan dengan sihirmu?!”

Rheinne tersenyum. Dia melayang pelan memutari tubuh Sapto lalu membelai lembut kepala sahabatnya itu. Ada sejuk merasuk ke ubun-ubun Sapto,yang entah bagaimana membuat emosinya mereda. Ah, pasti itu salah satu sihir Rheinne. Pasti…

“Kamu lupa, aku cuma Peri Hutan, To. Tugasku hanya merawat hutan beserta isinya bukan mencelakai manusia,” jawab Rheinne lembut.

Rasa dingin yang menyelimuti ubun-ubunnya sirna. Emosi Sapto menggelegak naik. “Tapi mereka merusak hutan, Rhe! Mereka membunuh hutan ini dan segala isinya.” Sapto tau dia terdengar childish dengan berteriak-teriak seperti ini. Tapi bayangan orang-orang itu menebang lalu membakar hutan ini membuatnya geram. “Demi Tuhan, mereka juga membunuhmu, Rhe! Kamu nyadar nggak sih?!”

Wajah Rheinne sayu, cahaya di sekeliling tubuhnya semakin melemah. Kini dia duduk di bongkahan pohon Waru yang hangus. Kepalanya mendongak memandang langit biru. “Aku tau, To. Aku tau…”

“Terus kenapa kamu cuma diem aja dan membiarkan mereka ngancurin hutan ini?!”

Rheinne bergeming. Tak ada kata yang meluncur dari bibirnya.

“Lihat, Rhe! Lihat! Semuanya hancur. Hangus!” teriakan Sapto memecahkan keheningan.

Rheinne masih tetap diam.

“Kenapa kamu diam, Rhe? Jawab aku!” Sapto menonjok udara dengan kesal.

“Manusia itu…” Rheinne sengaja menggantung kalimatnya, Sapto menatapnya tak sabar. “Manusia ternyata memang egois ya. Tidak mau disalahkan. Menimpakan kesalahan kepada pihak lain tanpa sadar merekalah penyebab semua masalah…” Suara Rheinne terdengar makin lemahdari sebelumnya.

Hati Sapto seperti dihantam godam mendengar kata-kata Rheinne. Apa maksud Rheinne? Apa dia sedang menyindir Sapto? “Maksudmu?”

“Kau tau, To. Kau tau apa maksudku.” Rheinne berdiri di hadapan Sapto. Tatapan matanya yang tajam dan sinis membuat Sapto ngeri. Tak urung Sapto menundukkan kepalanya.

Rheinne melayang di udara, Rambutnya berkibar dipermainkan angin. “Manusia, diserahkan tugas kepada mereka untuk menjaga dan melindungi alam ini. Sama seperti kami, para Peri yang ditugaskan untuk membantu manusia.” Suara Rheinne menggema di benak Sapto. Sesuatu yang aneh mengingat bibir Rheinne sama sekali tidak bergerak.

“Bisa dibilang manusia memiliki kuasa yang lebih besar dari kami atas alam ini. Tapi coba lihat apa yang terjadi? Alih-alih menaati perintah Pencipta, mereka malah merusak alam. Hutan ditebang, sungai penuh dengan sampah, limbah membunuh laut… Ironis, manusia yang katanya lebih mulia dari semua makhluk ciptaan lain ternyata lebih rendah dari iblis!”

Sapto terhenyak. Dia nggak tau harus menjawab apa. Apa yang dikatakan Rheinne memang benar, apa lagi yang harus disangkal?!

“Coba kau lihat, Sapto!” Rheinne menunjuk sekeliling mereka.

Mata Sapto mengikuti telunjuk Rheinne. Berapa kalipun Sapto melihatnya, hatinya tetap terenyuh pedih melihat hutannya kini raib. Menyisakan tanah kosong yang penuh arang dan bau gosong.

“Dengar itu juga, Sapto!” bisik Rheinne pelan.

Sapto diam, mendengarkan. Sesaat kemudian dia bergidik ngeri ketika sayup-sayup angin membawa suara tangisan. Raungan dan jeritan terdengar jelas di telinganya. “Su… Suara apa itu, Rhe?”

Rheinne menarik nafas, airmata membasahi pipinya. “Tangisan dari hutan yang dibakar dan ditebangi. Jerit kesakitan dari hewan-hewan yang dibunuh demi perut dan hobi manusia. Duka dari Bumi yang sekarat…”

“Hentikan, Rhe! Hentikan itu! Aku nggak tahan mendengarnya. Suara-suara itu mengerikan!” Sapto menutup kedua telinganya erat-erat. Dia nggak mau mendengar apapun lagi. Ada yang mengerikan dari suara yang didengarnya. Suara itu seakan-akan menariknya. Jatuh ke dalam lubang hampa. Membuat Sapto merasakan perih dan sakitnya alam saat ini.

“Ratapan, To… Itu ratapan alam. Dengarkan baik-baik, lalu beritahu kepada semua kaummu. Bahwa ini nyata. Bahwa alam mempunyai jiwa…” Suara Rheinne tetap terdengar, tak peduli bagaimana kerasnya Sapto menutup telinganya.

Rheinne melayang turun, berdiri di hadapan Sapto. Lama dia menatap sahabatnya itu sebelum akhirnya berlutut. Sapto menatapnya bingung.

“Sampaikan apa yang kau dengar dan lihat, To. Masih belum terlambat untuk memperbaiki kesalahan kaummu sekarang…” pinta Rheinne memelas. Saptolah harapan satu-satunya sebelum dia lenyap dari dunia ini.

Sapto menangis, menggeleng lemah. “Bagaimana caranya, Rhe? Aku hanya seorang kakek renta.” katanya terisak.

Rheinne tersenyum, dia mengusap airmata Sapto. “Kamu bisa, To. Aku tau kamu bisa. Aku tau kaummu bisa…” Cahaya Rheinne semakin meredup, bayangannya mulai memudar.

Jika kamu yang seorang Peri pun tak mampu berbuat apa-apa, apa yang bisa kuperbuat, desis Sapto dalam hati.

“Kamu nggak butuh sihir apapun untuk menyelamatkan alam, To…” kata Rheinne seolah bisa membaca pikiran Sapto.

Bagaimana dia tau? Ah, tentu saja dia kan peri, pikir Sapto mengingatkan dirinya sendiri.

“Terus gimana caranya, Rhe? Kasih tau aku apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kaumku lakukan?” teriak Sapto histeris.

Nafas Rheinne tersengal, rambutnya yang hijau mulai menguning. “Jangan lagi menebang hutan sembarangan. Jangan lagi sakiti bumi dengan polusi yang kalian buat. Jagalah kebersihan sungai dan laut, To. Dan satu hal lagi, tolong hormati makhluk hidup lain, mereka juga punya hak yang sama dengan kaummu. Untuk hidup, untuk menikmati alam…” Rheinne menarik nafas dengan susah payah. “Manusia dan alam saling terikat. Saling membutuhkan. Jika satu hancur maka yang lain pasti akan hancur juga. Ingat itu, To…”

Sapto mengangguk, dia mengulurkan tangan bermaksud mendekap sahabatnya itu. tapi percuma, tangan Sapto hanya menyentuh angin. Dia tak bisa menyentuh tubuh Rheinne seperti sebelumnya.

“Berjanjilah, To. Berjanjilah kamu dan kaummu akan menyelamatkan bumi kita….” Sambil memohon seperti itu, Rheinne tersenyum, matanya meredup. Cahaya di sekeliling tubuhnya padam. Rheinne lenyap. Musnah bersama datangnya senja. Meninggalkan Sapto yang telah kembali menjadi lelaki tua. Menangis terisak sendirian di hamparan hitam itu.

“Aku janji, Rhe. Aku janji…” Bisikan Sapto terbang bersama angin, berharap seseorang mendengarkannya dan berbuat sesuatu demi alam. Demi Bumi…

— The End —

Sabtu, 22 Mei 2010

Musthafa Chamran


Mustafa Chamran adalah Sosok pejuang Islam yang Rela mati dalam Kesyahidannya, dalam buku dengan judul aslinya Chamran be Rewoya-e Hamsar-e Syahid, karya Habibah Ja’fariyan yang diterbit untuk edisi Indonesia oleh penerbit Qorina sungguh sangat berkesan bagi setiap pembacanya. Setelah membaca Buku ini saya pribadi sangat terkesan dan mengapnya lebih hebat dari novel-novel lainnya yang menghadirkan tokoh Fiktif. Mustafa Chamran adalah kisah nyata dizaman sekarang ini.Selain pejuang Syahid chamran ternyata memiliki jiwa yang romantis dan sangat menyayangi dan menghormati wanita(istrinya), bagaimana beliau merapikan tempat tidur dan menyediakan sarapan untuk istrinya hingga akhir hayatnya (walau lebih didasari oleh janji yang diucapkannya kepada ibu mertuanya), tetap merupakan contoh yang luar biasa, karena ternyata apa yang dilakukan Nabi saw kepada istri-istrinya buka cuma dongeng semata, ini dibuktikan dengan seorang Mustafa Chamran dapat berbuat yang hampir sama dengan Nabi saw, padahal Mustafa Chamran sendiri hidup sejaman dengan kita bukan hidup pada jaman para sufi.Tentang keromantisan dari tokoh pejuang inipun bisa dilihat dari kisahnya mendapatkan restu keluarga istrinya dan mempertahankan pernikahan dari tentangan keluarga istrinya dengan akhlaq yang indah, seperti diceritakan bagaimana beliau orang yang mengantarkan ibu mertuanya ke rumah sakit dalam kondisi di tengah medan perang dan bagaimana beliau meminta istrinya untuk selalu menemani ibunya hingga sembuh dan bagaimana beliau mencium tangan istrinya seraya mengucapkan terimakasih sambil menguraikan airmata, hal yang membuat istrinya heran dan bertanya, “Terima kasih untuk apa, Mustafa?” Mustafa menjwab, “Inilah tangan yang telah mengabdi pada ibunya di hari-hari yang sulit. Tangan ini suci bagiku dan aku harus menciumnya.” Istrinya berkata,”Mengapa engkau berterima kasih padaku? aku berbuat begitu lntaran beliau adalah ibuku, bukan ibumu. Justru engkaulah yang telah berbuat baik kepada beliau.”Mustafa mengatakan, “tangan yang mengabdi pada ibunya suci. Orang yang tidak berbuat baik pada ibunya tidak akan baik pada siapapun. Aku berterimakasih karena engkau telah mengabdi pada ibumu dengan penuh cinta dan kasih sayang.” Istrinya berkata “Mutafa, setelah semua perlakuan kasar yang mereka lakukan padamu, engkau masih mengucapkan kata-kata seperti ini?”, Mustafapun menjawab, “Mereka berhak berbuat demikian lantaran mereka menyayangimu. Mereka tak begitu mengenalku. Dan ini sangat wajar, setiap orangtua ingin menjaga anak gadisnya.” Dan adalagi pesan yang luar biasa buat para pencinta yang mendapat ujian dari keluarga pasangannya, Mustafa Chamran menegaskan kepada istrinya, “Berusahalah dengan cinta dan kasih sayang membuat mereka ridha! Aku tidak suka, sementara aku menikah denganmu, hati ayah ibumu terluka.”

syair doa-doa beliau untuk istrinya Ghadeh

“Ya Allah! Aku memohon satu hal dariMu dengan penuh ketulusan;

Jadilah engkau pelindung bagi Ghadeh

dan janganlah Engkau membiarkannya sendiri.

Setelah kematianku, kuingin melihatnya terbang

Ya Allah! Kuingin sepeninggalku Ghadeh tidak berhenti melangkah diatas jalur kebenaran

Kuingin ia memikirkanku bak sekuntum bunga indah yang tumbuh di jalan kehidupan dan kesempurnaan

Kuingin Ghadeh memikirkanku seperti sepotong lilin-lemah-kecil yang menyala dalam keselapan hingga akhir hayatnya,

dan dia beroleh manfaatnya dari cahayanya untuk masa yang singkat

Kuingin dia memikirkanku sebagai angin surgawi yang berembus dari langit,

yang membisikkan di telinganya kata-kata cinta dan pergi menuju kata tanpa batas..

Kamis, 20 Mei 2010

Doa Kumail

Ruh agama adalah ibadah, dan ruh ibadah adalah doa.
Buku doa Kumail ini aku dapatkan dari seorang sahabat 21 tahun yang lalu.
Dan sepanjang waktu itu doa ini selalu menemaniku.
Disaat aku sedih, terpuruk, terjatuh, kecewa, marah, dan hampir putus asa,
aku selalu membacanya, dan kurasakan kekuatan dahsyat bersamaku dan kasih sayang yang tidak pernah putus dari-NYA
Bahwa aku tidak sendiri, bahwa DIA selalu bersamaku, dan sangat dekat, lebih dekat dari arteri carotis dileherku.

Aku tidak hanya membacanya di malam jumat atau malam nisfu sya’ban seperti yang dianjurkan di pengantar doa,
tapi hampir disetiap malam saat aku terbangun, dan merasakan indahnya keheningan dalam kata,
indahnya mengungkapkan rasa dengan-NYA.
Karena DIA kekasih paling Abadi, yang kasih sayang-NYa melebihi segenap cinta makhluk-NYA
Mana mungkin aku sanggup berpaling dari-NYA?

Aku tahu, hidupku tidak abadi, bisa saja dalam hitungan bulan, hitungan hari, bahkan mungkin hitungan menit atau detik, aku dipanggil menghadap-NYA
AKu ingin berbagi doa ini, mudah2an api cinta kita kepada-NYA semakin berkobar dan terus berkobar

Kumail bin Ziyad Nakha’i adalah sahabat pilihan Imam’Ali, ia meninggal dalam usia 90 tahun (83 H).
Seorang yang arif, bijaksana dan termasyhur karena kebajikan, pengetahuan, kezuhudan dan takwanya.

DOA KUMAIL

Ya Allah,
Aku bermohon pada-Mu,
dengan rahmat-Mu Yang memenuhi segala sesuatu,
dengan kekuasaan-Mu yang dengannya Engkau taklukkan segala sesuatu,
dan karenanya merunduk segala sesuatu,
dengan kemuliaan-Mu yang mengalahkan segala sesuatu,
dengan kekuatan-Mu yang tak tertahankan oleh segala sesuatu, dengan kebesaran-Mu yang memenuhi segala sesuatu,
dengan kekuasaan-Mu yang mengatasi segala sesuatu,
dengan wajah-Mu yang kekal setelah punah segala sesuatu,
dengan asma-Mu yang memenuhi tonggak segala sesuatu,
dengan ilmu-Mu yang mencakup segala sesuatu,
dengan cahaya wajah-Mu yang menyinari segala sesuatu.

Wahai Nur,
Wahai Yang Mahasuci.
Wahai yang Awal dari segala yang awal.
Wahai Yang Akhir dari segala yang akhir.

Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang meruntuhkan penjagaan.
Ya, Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang mendatangkan bencana.
Ya, Allah,
ampuni dosa-dosaku yang merusak karunia.
Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang menahan do`a.
Ya Allah,
ampunilah dosa-dosaku yang menurunkan bala`.
Ya Allah,
ampunilah dosa yang telah kulakukan
dan segala kesalahan yang telah kukerjakan.

Ya Allah,
aku datang menghampi-Mu dengan zikir-Mu,
aku memohon pertolongan -Mu dengan diri-Mu,
aku bermohon pada-Mu dengan kemurahan-Mu,
dekatkan daku keharibaan-Mu,
sempatkan daku untuk bersyukur pada-Mu,
bimbinglah daku untuk selalu mengingat-Mu.

Ya Allah,
aku bermohon pada-Mu dengan permohonan
hamba yang rendah, hina dan ketakutan, maafkan daku, sayangi daku,
dan jadikan daku ridha dan senang pada pemberian-Mu.

Ya Allah,
aku bermohon pada-Mu,
dengan permohonan orang yang berat keperluannya,
yang ketika kesulitan menyampaikan hajatnya pada-Mu,
yang besar kedambaannya untuk meraih apa yang ada disisi-Mu.

Ya Allah,
Maha besar kekuasaan-Mu, Maha tinggi kedudukan-Mu,
Selalu tersembunyi rencana-Mu,
Selalu tampak kuasa-Mu, selalu tegak kekuatan-Mu,
Selalu berlaku kodrat-Mu, takmungkin lari dari pemerintahan-Mu.

Ya Allah,
tidak kudapatkan pengampun bagi dosaku,
tiada penutup bagi kejelekanku,
tiada yang dapat menggantikan amalku yang jelek dengan kebaikan, melainkan Engkau.

Tiada Tuhan kecuali Engkau.
Maha suci Engkau dengan segala puji-Mu.
Telah aku aniaya diriku, telah berani aku melanggar,
karena kebodohanku, tetapi aku tetap tanteram,
karena bersandar pada sebutan-Mu dan karunia-Mu padaku.

Ya Allah, Pelindungku,
betapa banyak kejelekkan diriku telah Kau tutupi,
betapa banyak malapetaka telah Kau atasi,
betapa banyak rintangan telah Kau singkirkan,
betapa banyak bencana telah Kau tolakkan,
betapa banyak pujian baik yang tak layak bagiku telah Kau sebarkan.

Ya Allah,
besar sudah bencanaku,
berlebihan sudah kejelekan keadaanku,
rendah benar amal-amalku,
berat benar belenggu (kemalasanku).
Angan-angan panjang telah menahan manfaat dari diriku,
dunia dengan tipuannya telah memperdayaku,
dan diriku (telah terpedaya) karena ulahnya,
dan karena kelalaianku.

Wahai Junjunganku,
aku bermohon pada-Mu dengan seluruh kekuasan-Mu,
jangan Kau tutup do`aku, karena kejelekan amal dan perangaiku,
jangan Kau ungkapkan rahasiaku yang tersembunyi
yang telah Engkau ketahui,

Jangan Engkau segerakan siksa padaku karena perbuatan buruk
dan kejelekan yang kulakukan dalam kesendirianku,
karena kebiasaanku melanggar batas, dan kebodohanku,
karena banyaknya nafsuku dan kelalaianku.

Ya Allah,
dengan kemulian-Mu,
sayangi aku dalam segala keadaan, kasihi aku dalam segala perkara.

Ilahi Rabbi,
kepada siapa lagi selain Engkau,
aku memohon dihilangkan kesengsaraanku, dan diperhatikan urusanku.

Ilahi Pelindungku,
Engkau kenakan padaku hukum,
tetapi disitu aku ikuti hawa nafsuku;
aku tidak cukup waspada terhadap tipuan (setan) musuhku,
maka terkecohlah aku lantaran nafsuku,
dan berlakulah ketentuan-Mu atas diriku
ketika kulanggar sebagian batas yang Kau tetapkan bagiku,
dan kubantah sebagian perintah-Mu.
Namun bagi-Mu segala pujiku atas semuanya itu;
Tiada alasan bagiku (menolak) ketentuan yang Kau tetapkan bagiku,
demikian pula hukum dan ujian yang menimpaku.
Aku datang kini menghadap-Mu,

Ya Ilahi …,
dengan segala kekuranganku,
dengan segala kedurhakaanku (pelanggaranku),
sambil menyampaikan pengakuan dan penyesalanku
dengan hati yang hancur luluh,
memohon ampun dan berserah diri,
dengan rendah hati mengakui segala kenistaanku.

Karena segala cacatku ini,
tiada aku dapatkan tempat melarikan diri,
tiada tempat berlindung untuk menyerahkan urusanku,
selain pada kehendak-Mu untuk menerima pengakuan kesalahanku
dan memasukkan aku pada kesucian kasih-Mu.

Ya Allah,
terimahlah pengakuanku, kasihanilah beratnya kepedihan,
lepaskan aku dari kekuatan belengguku.

Ya Rabbi,
kasihanilah kelemahan tubuhku,
kelembutan kulitku dan kerapuhan tulangku.

Wahai Tuhan yang mula-mula menciptakanku,
menyebutku, mendidikku, memperlakukanku dengan baik, dan memberiku kehidupan,
karena permulaan karunia-Mu, karena Engkau telah mendahuluiku dengan kebaikan,
berilah aku karunia-Mu.

Ya Allah,
Junjungan-ku, Pemelihara-ku,

Apakah Engkau akan menyikasaku dengan api-Mu,
setelah aku mengesakan-Mu,
setelah hatiku tenggelam dalam makrifat-Mu,
setelah lidahku bergetar menyebut-Mu,
setelah jantungku terikat dengan cinta-Mu,
setelah segala ketulusan pengakuan-ku dan permohonan-ku,
seraya tunduk bersimpuh pada rububiah-Mu ?.

Tidak,
Engkau terlalu mulia untuk mencampakkan orang yang engkau ayomi,
atau menjauhkan orang yang Engkau dekatkan,
atau menyisikan orang yang Engkau naungi,
atau menjatuhkan bencana pada orang
yang Engkau cukupi dan Engkau sayangi,
aduhai diriku!,

Junjungan-ku, Tuhan-ku, Pelindung-Ku !,
Apakan Engkau akan melemparkan keneraka wajah-wajah yang tunduk rebah karena kebesarab-Mu,
lidah-lidah yang dengan tulus mengucapkan ke-Esaan-Mu dan dengan pujian mensyukuri nikmat-Mu,
kalbu-kalbu yang dengan sepenuh hati mengakui uluhiah-Mu,
hati nurani yang dipenuhi ilmu tentang Engkau,
sehingga bergetar katakutan,
tubuh-tubuh yang telah biasa tunduk untuk mengabdi-Mu dan dengan merendah memohon ampunan-Mu ? Tidak sedemikian itu persangkaan kami tentang-Mu,
padahal telah diberitakan pada kami tentang keutamaan-Mu.

Wahai pemberi karunia, wahai pemelihara !

Engkau mengetahui kelemahanku
dalam menanggung sedikit dari bencana dan siksa dunia
serta kejelekan yang menimpa penghuninya;
Padahal semua (bencana dan kejelekan) itu singkat masanya, sebentar lalunya, dan pendek usianya.
Maka apakah mungkin aku sanggup menanggung bencana akhirat dan kejelekan hari akhir yang besar,
bencana yang panjang masanya dan kekal menetapnya, serta tidak diringankan bagi orang yang menanggungnya;
sebab semuanya tidak terjadi, kecuali karena murka-Mu, karena balasan-Mu.
Inilah, yang bumi dan langit pun tak sanggup memikulnya.

Wahai Junjungan-Ku,
bagai mana mungkin aku (menanggungnya)?,
padahal aku hamba-Mu yang lemah, rendah, hina, malang, dan papa.
Urusan apalagi kiranya yang akan aku adukan pada-Mu ?

Mestikah aku menangis menjerit, karena kepedihan dan beratnya siksa, atau karena lamanya cobaan ?
SekiranyaEngkau siksa aku beserta musuh-musuh-Mu,
dan Engkau himpunkan aku bersama penerima bencana-Mu,
dan Engkau ceraikan aku dari para kekasih dan kecintaan-Mu, ohh… seandainya aku.

Ya Ilahi,
Junjungan-ku, Pelindung-ku, Tuhan-ku.
Sekiranya aku dapat bersabar menanggung siksa-Mu,
mana mungkin aku mampu bersabar berpisah dari-Mu ?.

Dan seandainya
aku dapat bersabar menahan panas api-Mu,
mana mungkin aku bersabar tidak melihat kemulyaan-Mu ?.
Mana mungkin
aku tinggal di neraka, padahal harapanku hanya maaf-Mu !.

Demi kemuliaan-Mu,
wahai Junjungan-Ku, Pelindung-Ku !
Aku bersumpah dengan tulus;
sekiranya Engkau biarkan aku berbicara disana, ditengah penghuninya, aku akan menangis, tangisan mereka yang menyimpan harapan,
aku akan menjerit, jeritan mereka yang memohon pertolongan,
aku akan merintih, rintihan yang kekurangan.
Sungguh,
aku akan menyeru-Mu, dimanapun Engkau berada.

Wahai, Pelindung kaum mukminin,
Wahai tujuan harapan kaum arifin,
Wahai lindungan kaum yang memohon perlindungan,
Wahai kekasih kalbu para pencinta kebenaran,
Wahai Tuhan seru sekalian alam.

Maha suci Engkau Ilahi, dengan segala puji-Mu !
Akankah Engkau dengar disana suara hamba muslim
yang terpenjara dengan keingkarannya,
yang merasakan siksanya karena kedurhakaannya,
yang terperosok ke dalam nya karena dosa dan nistanya;
ia merintih pada-Mu dengan mendambakan rahmat-Mu,
ia menyeru-Mu dengan lidah ahli tauhid-Mu,
ia bertawasul pada-Mu dengan rububiah-Mu,

Wahai Pelindung-ku !
Bagaimana mungkin ia kekal dalam siksa,
padahal ia berharap pada kebaikan-Mu yang terdahulu.
Mana mungkin neraka menyakitinya,
padahal ia mendambakan karunia dan kasih-Mu.
Mana mungkin nyalanya membakarnya,
padahal Engkau dengar suaranya dan Engkau lihat tempatnya,
Mana mungkin jilatan api mengurungnya,
padahal Engkau mengetahui kelemahannya.
Mana mungkin ia jatuh bangun didalamnya,
padahal Engkau mengetahui ketulusannya.
Mana mungkin Zabaniyah menghempasnya,
padahal ia memanggil-manggil -Mu : Ya Rabbi . !
Mana mungkin ia mengharapkan karunia kebebasan dari padanya, lalu Engkau meninggalkannya disana,

Tidak,
tidak demikian sangkaku pada-Mu.
Tidak mungkin seperti itu perlakuan-Mu terhadap kaum beriman,
melainkan kebaikan dan karunialah yang Engkau berikan.
Dengan yakin aku berani berkata,
kalau bukan karena keputusan-Mu
untuk menyiksa orang yang mengingkari-Mu dan putusan-Mu
untuk mengekalkan disana orang-orang yang melawan-Mu,
tentu

Engkau jadikan api seluruhnya sejuk dan damai,
tidak akan ada lagi disitu tempat tinggal
dan menetap bagi siapapun.
Tetapi Maha Kudus nama-nama-Mu,

Engkau telah bersumpah,
untuk memenuhi neraka dengan orang-orang
kafir dari golongan Jin dan Manusia seluruhnya.
Engkau akan mengekalkan disana kaum durhaka.
Engkau dengan segala kemuliaan puji-Mu,

Engkau berkata ,
setelah menyebutkan nikmat yang Engkau berikan
“Apakah orang mukmin seperti orang kafir, sungguh tidak sama mereka itu”.

Ilahi, Junjungan-ku,
Aku memohon pada-Mu,
dengan kodrat yang telah Engkau tentukan,
dengan qadha yang telah Engkau tetapkan dan putuskan,
dan yang telah Engkau tentukan berlaku pada
orang-orang yang dikenai ;

Ampunilah bagi-ku, dimalam ini, disaat ini,
semua nista yang pernah aku kerjakan,
semua dosa yang pernah aku lakukan,
semua kejelekan yang pernah aku rahasiakan,
semua kedunguan yang pernah aku amalkan,
yang aku sembunyikan atau tampakkan,
yang aku tutupi atau yang aku tunjukkan.
Ampunilah semua keburukan
yang telah Engkau suruhkan malaikat mencatatnya.
Mereka yang telah Engkau tugaskan untuk merekam

Segala yang ada padaku,
mereka yang Engkau jadikan saksi-saksi
bersama seluruh anggota badanku,
dan Engkau sendiri mengawal di belakang mereka,
menyaksikan apa yang tersembunyi pada mereka.
Dengan rahmat-Mu, Engkau sembunyikan kejelekan itu
Dengan kerunia-Mu, Engkau menutupinya.
Perbanyaklah bagianku pada setiap kebaikan yang Engkau turunkan, atau setiap karunia yang Engkau limpahkan,
atau setiap keberuntungan yang Engkau sebarkan,
atau setiap rezeki yang Engkau curahkan,
atau setiap dosa yang Engkau ampunkan,
atau setiap kesalahan yang Engkau sembunyikan.

Ya Rabbi . Ya Rabbi . Ya Rabbi.
Ya Ilahi, Junjungan-ku, Pelindung-ku, Pemilik nyawa-ku !
Wahai Dzat yang ditangan-Nya ubun-ubunku !
Wahai yang mengetahui kesengsaraan dan kemalangan-ku !
Wahai yang mengetahui kefakiran dan kepapaan-ku !

Ya Rabbi . Ya Rabbi . Ya Rabbi .
Aku memohon pada-Mu dengan kebenaran dan kesucian-Mu,
dengan keagungan sifat dan Asma`-Mu !
Jadikan waktu-waktu malam dan siang-ku,
dipenuhi dengan zikir pada-Mu,
dihubungkan dengan kebaktian pada-Mu,
diterima amalku disisi-Mu,
sehingga jadilah amal dan wiridku
seluruhnya wirid yang satu,
dan kekalkanlah selalu keadaanku dalam berbakti pada-Mu.

Wahai Dzat yang kepada-Nya aku percayakan diriku !
yang kepada-Nya aku adukan keadaanku !

Ya Rabbi . Ya Rabbi . Ya Rabbi .
Kokohkan anggota badanku untuk berbakti pada-Mu.
Teguhkan tulang-tulangku untuk melaksanakan niatku.
Karuniakan pada-ku kesungguhan untuk bertakwa pada-Mu, kebiasan untuk meneruskan bakti pada-Mu,
sehingga aku bergegas menuju-Mu bersama para pendahulu
dan berlari kearah-Mu bersama orang-orang terkemuka,
merindukan dekat pada-Mu bersama yang merindukan-Mu.
Jadikan daku dekat pada-Mu, dekatnya orang-orang yang ikhlas
dan takut pada-Mu, takutnya orang-orang yang yakin.
Sekarang aku berkumpul dihadirat-Mu bersama kaum mukminin.

Ya Allah !
siapa yang berbaksud buruk padaku, tahanlah dia,
siapa yang memperdayakan-ku, gagalkanlah dia.
Jadikan aku hamba-Mu yang paling baik nasibnya disisi-Mu.
yang paling dekat kedudukannya dengan-Mu,
yang paling istimewa tempatnya didekat-Mu,

Sungguh,
semua ini tidak akan tercapai, kecuali dengan karunia-Mu.
Limpahkan padaku kemurahan-Mu,
sayangi aku dengan kebaikan-Mu,
jaga diriku dengan rahmat-Mu,
gerakkan lidah-ku untuk selalu berzikir pada-Mu,
penuhi hatiku supaya selalu mencintai-Mu,
berikan padaku yang terbaik dari ijabah-Mu,
hapuskan bekas kejatuhanku,

Ampuni ketergelinciranku.
Sungguh,
telah Engkau wajibkan hamba-hamba-Mu beribadah pada-Mu,
Engkau perintahkan mereka untuk berdo`a pada Mu,
Engkau jaminkan pada mereka ijabah-Mu.

Karena itu, kepada-Mu,
Ya Rabbi,
aku hadapkan wajah-ku, kepada-Mu,

Ya Robbi,
aku ulurkan tangan-ku, demi kebesaran-Mu,
perkenankan do`a-ku,
sampaikan daku pada cita-citaku,
jangan putuskan harapanku akan karunia-Mu,
lindungi aku dari kejahatan Jin dan Manusia
musuh-musuhku.

Wahai yang Maha cepat ridhonya !
Ampunilah orang yang tidak memiliki apapun kecuali do`a,
karena Engkau perbuat apa kehendak-Mu.

Wahai yang namanya adalah obat,
yang zikir-Nya adalah penyembuhan,
yang ketaatan-Nya adalah kekayaan !
Kasihanilah orang yang hartanya hanya harapan,
dan senjatanya hanya tangisan.

Wahai Penabur karunia !
Wahai Penolak bencana !

Wahai Nur,
yang menerangi mereka
yang terhempas dalam kegelapan,

Wahai yang maha tahu tanpa diberi tahu,
sampaikan rahmat-Mu
pada Muhammad dan Keluarga Muhammad.

Lakukan pada-ku
apa yang layak bagi-Mu.

Semoga Allah
melimpahkan kesejahteraan
pada Rasul-Nya serta para Imam yang mulia dari Keluarganya;
Sampaikan salam pada mereka.